JAYAPURA — Dampak El Nino di Papua Nugini membentang dari dataran tinggi hingga provinsi pesisir. Embun salju dilaporkan muncul di Provinsi Enga, kekeringan dan krisis air melanda Provinsi Barat yang berbatasan dengan Provinsi Papua Selatan Indonesia, sementara kebakaran terjadi di pulau-pulau Provinsi Manus di Samudra Pasifik.
Lembaga Penyiaran Nasional PNG (NBC) melaporkan semak kering, rumput kunai, dan lantai hutan yang mudah terbakar memperparah situasi. Kebakaran hutan di Kepulauan Lou awal bulan ini menghanguskan setidaknya setengah dari hutan di pulau itu.
Penduduk setempat disebut kekurangan sumber daya memadai untuk memadamkan api. Kekeringan berkepanjangan kini meningkat menjadi masalah kemanusiaan nasional yang memengaruhi air, pangan, kesehatan, dan mata pencaharian warga.
Kebakaran Meluas, Penilaian Cepat Diminta
Kantor-kantor Penanggulangan Bencana Provinsi di seluruh Dataran Tinggi didesak melakukan penilaian cepat dan memberikan bantuan segera. Desakan muncul karena negara bersiap menghadapi lebih banyak bulan kekeringan di masa mendatang.
Organisasi Meteorologi Dunia memperingatkan bahwa fase El Nino yang semakin intensif akan membawa kondisi Samudra Pasifik tropis yang luar biasa hangat dalam beberapa bulan ke depan.
"El Nino sudah menyebabkan gangguan dan kerusakan akibat kekeringan dan banjir di berbagai bagian dunia termasuk Pasifik, dan diperkirakan akan mencapai puncaknya menjelang akhir tahun ini, dengan dampak iklim yang berlanjut hingga tahun 2027," demikian pernyataan dalam pembaruan pada bulan September.
Perempuan dan Anak Perempuan Menanggung Beban Terberat
Dari populasi PNG sebanyak 10.185.363 jiwa, tercatat hampir 5 juta orang terkena dampak kekeringan. Kaum perempuan dan anak perempuan mengalami dampak yang tidak proporsional.
Kelompok kemanusiaan CARE International menyebut pola cuaca El Nino memperburuk kekerasan berbasis gender dan ketidaksetaraan di seluruh Pasifik. CARE menyerukan pemerintah berinvestasi dalam keamanan bagi perempuan dan anak perempuan, di samping dukungan ketahanan terhadap perubahan iklim dan bencana yang sudah ada.
Manajer Proyek Kemanusiaan di PNG, Emilly Meren, mengatakan El Nino tahun ini menghadirkan tantangan yang unik.
"Ketika kita berbicara tentang bencana apa pun, semuanya bermuara pada penjatahan rumah tangga," katanya.
"Perempuan dan anak perempuan diharapkan untuk menggandakan atau bahkan melipatgandakan upaya mereka untuk memastikan ada pasokan makanan dan air untuk kebutuhan keluarga setiap hari," ujarnya.
Wilayah Perbatasan dengan Papua Selatan Paling Rawan Air
Provinsi Barat yang berbatasan langsung dengan Provinsi Papua Selatan menjadi salah satu titik krisis air. Kondisi ini menambah tekanan di kawasan perbatasan yang secara geografis berdekatan dengan wilayah Indonesia.
Pemerintah PNG belum merinci besaran bantuan yang disiapkan. Penilaian cepat dari kantor penanggulangan bencana provinsi akan menentukan skala intervensi, terutama di Dataran Tinggi yang paling terdampak kekeringan.